Saya sering dimintai nomor kontak dari
tokoh-tokoh cerita, bahkan ada yang mencela saya karena berbohong
melalui cerita-cerita ini. Sebenarnya saya maklum terhadap mereka,
karena mereka belum pernah menulis cerita, sehingga tidak bisa
membedakan cerita dengan laporan dari tempat kejadian (field repor/FR).
Saya yakin penerbit suratkabar atau majalah, tidak akan mau memberi no
kontak tokoh yang mereka ceritakan meskipun foto wajah diperlihatkan.
Apalagi artikel-artikel human interest yang dipublikasikan sumber-sumber
nya sangat dirahasiakan. Bahkan berita-berita fakta ada beberapa yang
sumbernya dilindungi, sampai kapanpun sumber itu tidak pernah akan
dibuka, peristiwa Water gate yang menjatuhkan Presiden Nixon di AS,
sampai Presiden turun tahta penulis tidak bersedia mengungkapkan
sumbernya.
Jika anda masih terus membaca sampai
sini, anda bisa memaklumi ungkapan cerita-cerita saya, bahkan cerita
saya yang ditulis sebelum ini. Mohon maklum, saya tergolong masih sangat
pemula sebagai penulis, jadi jangan dibandingkan dengan penulis-penulis
beken, nikmati saja, kalau ada yang janggal yah telan aja. Tapi kalau
bisa kritik yang sifatnya untuk memperbaiki penulisan cerita saya, tentu
dengan sangat senang akan saya terima.
Cerita sesungguhnya adalah kumpulan
informasi yang dikemas demikian rupa sehingga enak dibaca. Cerita
menjadi lebih menarik jika yang diuraikan adalah hal yang tidak biasa
terjadi, unik, aneh, atau belum pernah terpikir.
Maaf saya berpanjang-panjang dalam
mukadimah. Maksudnya hanya untuk menjawab berbagai pertanyaan yang
ditujukan kepada saya. Saya berterima kasih atas begitu banyaknya pujian
baik yang langsung kedalam blog saya maupun yang secara tidak langsung
melalui cerita saya yang di copas lalu ditayangkan di berbagai forum.
Mohon yang melakukan copas agar menyebut nama saya sebagai pengarangnya,
itu etika dasar sih.
Saya ingin menceritakan kehidupan di
masa lalu saya ketika baru tumbuh menjadi anak laki-laki. Saya hanya
mampu mengingat kehidupan saya secara lebih lengkap sejak saya berumur
15 tahun.
Dalam usia itu saya baru kelas 2 SMP di sebuah desa yang berada di pelosok, jauh dari keramaian dan kehidupan modern. Rumah saya hanya terbuat dari dinding anyaman bambu, lantai tanah dan letaknya terpencil di luar kampung.
Dalam usia itu saya baru kelas 2 SMP di sebuah desa yang berada di pelosok, jauh dari keramaian dan kehidupan modern. Rumah saya hanya terbuat dari dinding anyaman bambu, lantai tanah dan letaknya terpencil di luar kampung.
Kami keluarga miskin, mungkin jika
menurut ukuran pemerintah adalah keluarga yang hidup di bawah garis
kemiskinan. Aku tinggal bersama emakku yang aku panggil simbok dan
nenekku yang aku panggil mbah. Kami memang hanya bertiga. Mbok cerai
dari Bapak sejak aku lulus SD. Aku tidak tahu apa penyebabnya, tetapi
yang kurasa, Bapak pergi meninggalkan rumah dan sampai sekarang tidak
tahu keadaannya. Mbah menjanda sudah sekitar 5 tahun karena kakek
meninggal.
Aku ingat Mbah kakung (kakek) meninggal
waktu aku masih SD. Jadi hanya aku lah laki-laki dirumah itu, yang harus
mengerjakan semua pekerjaan laki-laki. Sementara mbok mencari nafkah
dengan memburuh tani bersama mbah. Keduanya masih energik.
Ketika umurku 15 tahun mbok masih umur
29 tahun dan mbah 42 tahun. Umur segitu kalau di kota besar masih
tergolong belum tua, tapi di kampung sudah termasuk uzur. Namun kedua
mereka dikaruniai badan yang langsing dan menurut istilah Jawa, singset.
Mbokku mewarisi ibunya berbadan langsing. Meski kedua mereka sudah
memasuki usia tua menurut ukuran kampung, tetapi tubuh mereka tidak
bergelambir lemak, alias singset.
Wajah mereka biasa-biasa saja tidak
terlalu cantik, tetapi juga tidak jelek. Biasa saja lah orang kampung,
Cuma wajahnya bersih dari noda bekas jerawat. Sepengetahuanku mereka
tidak terlalu repot menjaga tubuh dan wajah, karena makan hanya seadanya
dan mandi juga biasa tidak pernah dilulur dan sebagainya.
Baik mak maupun mbah, tumit kakinya
kecil dan betisnya langsing. Ini menjadi perhatianku setelah aku dewasa
dan mengenal ciri-ciri wanita yang pandai memuaskan suami.
Agak melenceng sedikit. Kebiasaan di desa kami adalah setiap rumah mempunyai kamar mandi yang disebut sumur berada di luar rumah dan umumnya agak jauh di belakang rumah. Tidak jauh dari sumur terdapat tempat buang hajat besar. Sumur dan wc nayris tidak berdinding penghalang. Yang ada hanya bangunan lubang sumur yang bibirnya ditinggikan sekitar 1 meter, lalu tonggak-tonggak kayu untuk menggantung baju dan handuk.
Agak melenceng sedikit. Kebiasaan di desa kami adalah setiap rumah mempunyai kamar mandi yang disebut sumur berada di luar rumah dan umumnya agak jauh di belakang rumah. Tidak jauh dari sumur terdapat tempat buang hajat besar. Sumur dan wc nayris tidak berdinding penghalang. Yang ada hanya bangunan lubang sumur yang bibirnya ditinggikan sekitar 1 meter, lalu tonggak-tonggak kayu untuk menggantung baju dan handuk.
Di sekitar sumur dan wc ditumbuhi oleh
tanaman rumpun sereh dan tanaman semak yang rimbun sehingga agak
terlindung. Aku sebagai laki-laki selalu bertugas menimba dan mengisi
air ke ember-ember untuk mandi, cuci piring dan cuci baju. Ritual mandi
biasanya dilakukan pada pagi hari ketika mata hari mulai agak terang
sekitar pukul 5 pagi.
Sudah sejak kecil aku terbiasa mandi
bersama orang tuaku. Tidak ada rasa malu, sehingga kalau kami mandi
tidak memakai basahan, atau sarung. Kami mandi telanjang bulat. Mungkin
bedanya kalau orang kota mandinya berdiri di bawah shower atau bergayung
ria atau tiduran di bath tub. Kalau kami orang desa mandi biasanya
jongkok. Hanya beberapa saat saja berdiri untuk mebilas semua tubuh
setelah bersabun.
Di usiaku 15 aku baru mulai tertarik
dengan bentuk badan lawan jenis. Yang bisa aku lihat hanya simbok dan
mbah saja. Mbok badannya langsing dan kulitnya kencang, payudaranya
tidak besar, kakinya juga langsing. Di usianya yang hampir memasuki
kawasan 30, teteknya masih kencang membusung. Mungkin karena ukurannya
tidak besar jadi buah dadanya tidak mengelendot turun. Jembutnya cukup
lebat, rambutnya sebahu yang selalu diikat dan digelung.
Simbah badannya tidak jauh dari mbok,
dan tingginya juga sama sekitar 155 cm, Cuma teteknya sedikit agak
turun, tapi masih kelihatan indah. Jembutnya juga tebal. Badannya meski
kelihatan lembut, tetapi perkasa karena mungkin pengaruh warna kulit
yang tergolong sawo matang. Tetek mbah kayaknya sedikit lebih besar dari
simbok. Perut Mbah agak banyak tertutup lemak, sehingga tidak serata
perut mbok.
Aku kenal betul seluk-beluk kedua body
mereka karena setiap hari pagi dan sore kami selalu mandi bersama,
telanjang bersama dalam waktu yang cukup lama. Jika pagi hari selain
mandi mbok dan simbah mencuci pakaian dan peralatan makan semalam.
Berhubung tugasku menimba air maka aku tetap berada di posku sampai
seluruh pekerjaan mereka selesai. Jika sore mandinya lebih cepat karena
acara selingan hanya cuci piring.
Mohon pembaca jangan protes dulu, karena
sekolah kami di desa memundurkan waktu masuk menjadi jam 8 dengan
pertimbangan murid-murid umumnya memerlukan waktu untuk membantu
pekerjaan rumah tangga di pagi hari dan memberi kesempatan kepada murid
yang tinggalnya sekitar sejam jalan kaki dari sekolah.
Seingatku sejak aku sunat di umur 12
tahun, atau selepas lulus SD sering kali aku malu karena penisku sering
berdiri kalau pagi-pagi ketika mandi bersama. Sebetulnya penis berdiri
sejak aku bangun pagi, sampai mandi dia tidak surut-surut. Mbok sih
cuek-cuek aja, tetapi si mbah sering mengolok-olok, bahkan kadang-kadang
menampar pelan penisku dengan menyuruh “tidur”.
Mulanya aku tidak malu, tapi sejalan bertambah umurku, penisku makin besar dan di sekitarnya mulai ditumbuhi bulu. Anehnya si mbah yang selalu memberi perhatian lalu ngomong ke simbok. Mbok ku lalu menimpali, “ cucumu sudah mulai gede mbah,” katanya.
Mulanya aku tidak malu, tapi sejalan bertambah umurku, penisku makin besar dan di sekitarnya mulai ditumbuhi bulu. Anehnya si mbah yang selalu memberi perhatian lalu ngomong ke simbok. Mbok ku lalu menimpali, “ cucumu sudah mulai gede mbah,” katanya.
Aku sulit mengendalikan penisku, kalau
sudah berdiri, dia sulit di layukan, meski aku sirami air dingin. Yang
bikin makin menegangkan, si mbah kadang-kadang memegang-megang penisku
seolah-olah mengukur perkembangannnya, Si mbok juga disuruh Mbah
merasakan perkembangan penisku. Meskipun kedua mereka adalah orang tua
ku kandung, tetapi namanya dipegang tangan perempuan, naluri
kelaki-lakianku bangkit. Penisku jadi makin mengeras.
Kadang-kadang aku berusaha menghindar
karena malu, tetapi selalu dicegah oleh mbah dan menyuruh aku diam saja.
Dibandingkan emak ku, mbah lebih agresif. Di usia 15 tahun aku sudah
memiliki tubuh seperti pria dewasa. Tinggiku lebih dari 165 cm dan
penisku sudah kelihatan gemuk dan keras serta agak panjang sekitar 15
cm.
Sebenarnya dengan aku sebesar itu sudah
tidak pantas bersama emak dan mbahku mandi telanjang bersama. Tapi
karena sudah terbiasa sejak kecil, aku tetap saja dianggap masih
anak-anak.
Entah pantas disebut bagaimana, sialnya atau untungnya, embahku makin suka mempermainkan penisku. Kadang-kadang tangannya dilumuri sabun lalu dikocoknya penisku agak lama lalu dilanjutkan dengan menyabuniku. Emak juga kadang-kadang ikut-ikutan embah, meski penisku sudah berlumuran sabun, dia ikut mengocok dan merabai kantong semarku. Rasanya birahiku terpacu dan rasanya nikmat sekali. Makanya aksi mereka itu aku biarkan. Bahkan jika mandi tanpa ritual itu, aku yang selalu memintanya.
Entah pantas disebut bagaimana, sialnya atau untungnya, embahku makin suka mempermainkan penisku. Kadang-kadang tangannya dilumuri sabun lalu dikocoknya penisku agak lama lalu dilanjutkan dengan menyabuniku. Emak juga kadang-kadang ikut-ikutan embah, meski penisku sudah berlumuran sabun, dia ikut mengocok dan merabai kantong semarku. Rasanya birahiku terpacu dan rasanya nikmat sekali. Makanya aksi mereka itu aku biarkan. Bahkan jika mandi tanpa ritual itu, aku yang selalu memintanya.
Tapi seingatku meski dikocok-kocok agak
lama kok aku waktu itu tidak ejakulasi. Aku sendiri belum mengetahui
cara melakukan onani, maklum anak desa, yang akses informasi ke dunia
luar masih sangat terbatas.
Entah gimana awalnya tetapi setelah
seringnya aku dikocok-kocok kami jadi sering mandi saling menyabuni, aku
menyabuni seluruh tubuh mak ku dan mbahku. Dalam mengusap sabun tentu
saja aku leluasa menjamah seluruh tubuh mereka. Aku senang mencengkram
tetek dan memelintir pentil susu. Juga senang mengusap-usap jembut dan
menjepitkan jari tengahku ke sela-sela memek. Mungkin itu naluri yang
menuntun semua gerakan. Sumpah, aku tidak tahu harus bagaimana
memperlakukan perempuan pada waktu itu.
Namun kesannya mereka berdua senang,
bahkan badan mereka sering dirapatkan dan memelukku, sehingga penisku
yang menjulang tegang kedepan selalu menerjang bagian pantat atau bagian
atas memek. Mbah kadang-kadang menundukkan penisku agar masuk ke
sela-sela pahanya sambil memelukku erat. Posisi itu paling aku suka
sehingga kepada makku juga aku lakukan begitu. Mereka kelihatan tidak
keberatan alias oke-oke saja. Saya pun tidak tahu pada waktu itu bahwa
berhubungan badan itu memasukkan penis ke dalam lubang memek.
Aku sering dipuji mbah dan itu dikatakan
kepada mak ku. “ anak mu ini hebat lho nduk (panggilan anak perempuan
jawa), kayaknya dia kuat.”
Terus terang aku tidak mengerti yang
dimaksud kuat. Kala itu kupikir yang dimaksud kuat adalah kemampuanku
menimba air, membelah kayu bakar dan mengangkat beban-beban berat.
Mbah ku dan makku tidak kawin lagi setelah mereka berpisah dengan suaminya. Aku tidak pernah menanyakan alasannya, karena aku rasa lebih nyaman hidup bertiga gini dari pada harus menerima kehadiran orang luar. Padahal yang naksir mbah, apalagi emakku lumayan.
Mbah ku dan makku tidak kawin lagi setelah mereka berpisah dengan suaminya. Aku tidak pernah menanyakan alasannya, karena aku rasa lebih nyaman hidup bertiga gini dari pada harus menerima kehadiran orang luar. Padahal yang naksir mbah, apalagi emakku lumayan.
Suatu hari kemudian aku dipanggil emakku
setelah mereka berdua berbicara berbisik-bisik di kamar Aku waktu itu
sedang asyik meraut bambu untuk membuat layangan di teras rumah. Emakku
duduk di sampingku.
“Le (Tole istilah panggilan anak laki-laki Jawa), kamu nanti malam tidur dikamar bersama mbah dan simbok.” kata mak.
“Ah gak mau , kan tempat tidurnya sempit, kalau tidur bertiga,” kataku.
“Le (Tole istilah panggilan anak laki-laki Jawa), kamu nanti malam tidur dikamar bersama mbah dan simbok.” kata mak.
“Ah gak mau , kan tempat tidurnya sempit, kalau tidur bertiga,” kataku.
Tempat tidur mereka sebenarnya hanya dua
kasur kapuk yang dihampar diatas plastic dan tikar di lantai. Masih ada
ruang untuk menggelar tikar tambahan di sisi kiri atau kanannya.
Sehingga jika ditambah satu bantal, bisalah untuk tidur bertiga, dengan
catatan seorang diantaranya tidur di tikar.
Selama ini aku tidur di balai-balai bambu di ruang tengah. Di desaku disebut amben bambu. Tidak ada masalah tidur di amben meski tanpa kasur. Aku tidur hanya beralas tikar dan ditemani bantal kumal serta sarung.
Selama ini aku tidur di balai-balai bambu di ruang tengah. Di desaku disebut amben bambu. Tidak ada masalah tidur di amben meski tanpa kasur. Aku tidur hanya beralas tikar dan ditemani bantal kumal serta sarung.
Aku bertanya-tanya, tetapi tidak dijawab
mak atau mbah, kenapa malam itu aku harus tidur seranjang dengan
mereka. “Udahlah turuti saja, jadi anak yang penurut, jangan suka
terlalu banyak tanya,” nasihat mbahku.
Saking polosnya aku, yang terbayang dalam benakku adalah nanti malam aku bakal tidur bersempit-sempitan dan bersenggolan. Aku paling tidak senang jika tidur bersinggungan dengan orang lain. Tidak terlintas sedikitpun pikiran yang negatif.
Saking polosnya aku, yang terbayang dalam benakku adalah nanti malam aku bakal tidur bersempit-sempitan dan bersenggolan. Aku paling tidak senang jika tidur bersinggungan dengan orang lain. Tidak terlintas sedikitpun pikiran yang negatif.
Biasanya aku tidur jam 10 malam, tapi
malam itu jam 8 malam aku sudah diseret masuk ke kamar mereka. Aku tidur
di kasur bersama mbah, disebelah yang lain mbok ku tidur ditikar.
Mulanya hanya tidur telentang, Tidak lama lama kemudian mbah tidur memelukku. Terus terang aku merasa risih dipeluk. Tapi mau protes tidak berani, jadi diam saja. Mbah mengusap-usap wajahku, lalu dadaku. Aku mengenakan kaos usang yang di beberapa tempat sudah ada yang sobek. Entah berapa lama diusap-usap, aku menunggu dengan persasaan tegang. Aku tidak tahu kemana tujuan mereka mengajakku tidur bareng dan sekarang mbah tidur memelukku dan mengusap-usap dadaku. Sejujurnya aku sangat risih, tetapi apa daya tidak berani protes. Jika diberi peluang aku akan memilih kembali tidur di luar di amben.
Mulanya hanya tidur telentang, Tidak lama lama kemudian mbah tidur memelukku. Terus terang aku merasa risih dipeluk. Tapi mau protes tidak berani, jadi diam saja. Mbah mengusap-usap wajahku, lalu dadaku. Aku mengenakan kaos usang yang di beberapa tempat sudah ada yang sobek. Entah berapa lama diusap-usap, aku menunggu dengan persasaan tegang. Aku tidak tahu kemana tujuan mereka mengajakku tidur bareng dan sekarang mbah tidur memelukku dan mengusap-usap dadaku. Sejujurnya aku sangat risih, tetapi apa daya tidak berani protes. Jika diberi peluang aku akan memilih kembali tidur di luar di amben.
Tangan kanan mbah yang tadi mengusap
dadaku mulai merambat ke bawah ke arah sarungku. Aku terbiasa tidur
sarungan dan di dalamnya tidak pakai celana, karena selain untuk
menghemat pemakaian celana juga rasanya lebih enak leluasa. Terpeganglah
gundukan kemaluanku dri luar sarung. Tangan mbahku meremas-remas,
mengakibatkan aku tegang. Bukan hanya penis yang menegang, tetapi
perasaanku juga tegang, karena khawatir terhadap kejadian apa yang bakal
terjadi selanjutnya. Aku diam saja, selain berdebar-debar, penisku jadi
mengembang di remas-remas mbah.
Ditariknya sarung keatas sehingga terbukalah bagian kemaluanku. Kamar tidur rumah kami hanya bepenerangan lampu minyak yang sejak tadi sudah di kecilkan. Jadi pemandanganku hanya remang-remang.
Ditariknya sarung keatas sehingga terbukalah bagian kemaluanku. Kamar tidur rumah kami hanya bepenerangan lampu minyak yang sejak tadi sudah di kecilkan. Jadi pemandanganku hanya remang-remang.
Diraihnya kemaluanku lalu digenggamnya
penisku yang sudah mengeras sempurna. Nikmatnya luar biasa , tapi juga
aku merasa takut, sehingga debaran jantungku makin keras. Penisku di
kocok-kocok, sampai akhirnya aku terbuai dan rasa takutku sudah
terlupakan. Tanpa sadar aku melenguh nikmat.
Entah kapan si mbah membuka bagian depan bajunya sehingga ketika kepalaku ditarik ke dadanya wajahku merasakan kelembutan payudaranya. Mulutku diarahkan ke puting susunya dan aku diperintah menjilati dan mengemut susunya. Perintah itu aku turuti dan naluriku juga menuntunnya. Sedap nian rasanya mengemut dan menjilati puting susu yang mengeras.
Entah kapan si mbah membuka bagian depan bajunya sehingga ketika kepalaku ditarik ke dadanya wajahku merasakan kelembutan payudaranya. Mulutku diarahkan ke puting susunya dan aku diperintah menjilati dan mengemut susunya. Perintah itu aku turuti dan naluriku juga menuntunnya. Sedap nian rasanya mengemut dan menjilati puting susu yang mengeras.
Meski tidak ada rasa, tetapi memainkan
puting susu lebih nikmat rasanya dari pada mengunyah marshmallow.
Setelah bergantian kiri dan kanan aku diminta nenek menaiki tubuhnya.
Sarungku sudah dilepasnya sehingga bagian bawahku sudah telanjang. Aku
turuti saja perintah si mbah. Aku merasakan bagian bawah mbah juga sudah
terbuka. Aku berasa gesekan jembut lebatnya menggerus perutku. Sambil
aku menindih mbah penisku dipegang mbah dan diarahkan ke lubang
vaginanya. Aku diminta mengangkat badanku sedikit dan ketika ujung peler
sudah di depan lubang aku diminta menurunkan badanku pelan-pelan.
Tidak pernah terbayangkan dan
terpikirkan kenikmatan dan sensasi ini. Jiwaku terasa melayang di
awang-awang. Aku tidak ingat dan peduli siapa yang ada di bawah tubuhku.
Yang kurasakan adalah seorang wanita menggairahkan. Sensasi masuknya
penisku perlahan-lahan ke vagina mbah terasa sangat nikmat. Terasa
vaginanya licin tapi juga tidak mudah memasukkan penisku. Setelah
seluruh batang penisku tengggelam dilahap memek mbah terasa hangatnya
lubang vagina mbah. Kami berdiam sebentar dan aku mematung merasakan
sensasi kenikmatan luar biasa yang belum pernah akur rasakan selama
hidupku.
Sesaat kemudian mbah agak mendorong
tubuhku dan menariknya kembali. Mbah mengendalikan gerakanku dengan
memegangi melalui kedua tangannya di bongkahan pantatku. Aku tidak
menyangka kenikmatan luar biasa ini. Embah terdengar mendesis dan
terkadan mengerang. Aku makin cepat melakukan gerakan seiring dengan
makin nikmatnya rasa yang menjalari mulai dari kemaluanku sampai ke
seluruh tubuh.
Seingatku aku tidak terlalu lama
bergerak begitu, karena selanjutnya ada gelombang nikmat yang mendera
tubuhku dan berujung pada kontraksi di penis dan seluruh otot di bawah.
Aku merasa mengeluarkan sesuatu dari lubang kencing. Tanpa diberi
komando selama proses pelepasan itu aku membenamkan dalam-dalam penisku
ke dalam memek mbah.
Terasa lega dan plong setelah semua
spermaku tumpah. Mbah mendorong tubuhku untuk berbaring di sebelahnya
dan seluruh sendi tubuhku terasa lemas. Mbah bangkit dan mengambil lap
yang lembab membersihkan seluruh kemaluanku yang penuh berselemak cairan
sperma dan cairan dari vagina mbah.
Penisku layu perlahan-lahan sampai
selesai proses pembersihan itu. Mbah kulihat juga membersihkan memeknya
dengan lap lain. Setelah kami berdua bersih, mbah beralih pindah ke
tikar sementara mak tidur di sebelahku.
Dia seperti mbah tadi tidur memelukku dan tangannya meremas-remas penisku yang loyo. Remasan mak membuat penisku berkembang per lahan-lahan sampai akhirnya tegang mengeras kembali. Tetapi rasanya tidak sensitif tadi.
Dia seperti mbah tadi tidur memelukku dan tangannya meremas-remas penisku yang loyo. Remasan mak membuat penisku berkembang per lahan-lahan sampai akhirnya tegang mengeras kembali. Tetapi rasanya tidak sensitif tadi.
Mengetahui penisku sudah menegang
sempurna, mak menyuruhku menindih tubuhnya seperti mbah tadi . Tangannya
menuntun penisku untuk memasuki lubang memeknya. Aku sudah paham dan
aku segera menekan batang penisku ketika terasa penisku sudah mulai
memasuki lubang hangat. “pelan-pelan, sakit,” kata emak.
Aku turuti perintahnya dan pelan-pelan kutekan penisku memasuki lubang memeknya yang juga terasa hangat dan menjepit. Setelah semua masuk aku mulai menggenjot. Nikmat luar biasa dan aku lupa pada keadaan sekeliling. Perhatianku hanya tertuju pada kenikmatan yang sekarang sedang menjalar ke seluruh tubuhku.
Aku turuti perintahnya dan pelan-pelan kutekan penisku memasuki lubang memeknya yang juga terasa hangat dan menjepit. Setelah semua masuk aku mulai menggenjot. Nikmat luar biasa dan aku lupa pada keadaan sekeliling. Perhatianku hanya tertuju pada kenikmatan yang sekarang sedang menjalar ke seluruh tubuhku.
Aku terus menggenjot makku sampai dia
berteriak-teriak seperti orang kesakitan. Tapi ketika aku tanya dia
mengkomandoiku agar jangan berhenti dan terus menggenjot. Mak ku sudah
seperti orang hilang ingatan. Badannya kelojotan dan bergerak tidak
karuan sampai beberapa kali penisku lepas dari memeknya. Dia buru-buru
meraih penisku untuk dimaskukkan kembali ke lubang memek. Tiba tiba dia
berteriak “ aaaaaah aaaah aduhhh aaaaah aduh. “ kedua tangannya menarik
pantatku agar semua batang penisku tenggelam. Aku turuti kemauannya dan
penisku merasa seperti berkali-kali dicengkeram oleh memeknya. Aku
berdiam sampai agak lama, sampai tidak ada lagi kurasakan kedutan di
lubang memeknya.
Sepertinya mak ku sudah siuman. Dia
kutanya dengan penuh keheranan, apakah kesakitan. Dia menggelengkan
kepala sambil tersenyum ditariknya wajahku ke wajahnya dan diciuminya
seluruh wajahku. Penisku masih tertancap dalam memeknya. Naluriku
mendorong aku melakukan kembali gerakan naik turun seperti tadi. Mak
kembali mendesah-desah dan menjerit kecil. Aku pun makin semangat
memompa dan birahiku makin terangsang mendengar erangan itu. Sepertinya
aku akan kembali merasakan sperma akan keluar , gerakanku makin
kupercepat dan mak makin keras mengerang, sampai kuingat mbahku
mengusap-usap rambut emakku. Aku tidak perduli apapun kecuali segera
mencapai puncak kenikmatan.
Ketika puncak kenikmatan muncul
kubenamkan dalam-dalam penisku ke dalam memek mak dan ku tembakkan
spermaku berkali-kali. Mak ku menarik tubuhku rapat rapat dan kurasakan
penisku dijepit-jepit. Luar biasa sensasi kenikmatan yang kurasakan.
Aku berdiam sebentar sampai akhirnya penisku keluar dengan sendirinya dari lubang memek karena menyusut. Aku tergolek di samping emakku dan rasa lemas dan ngantuk yang luar biasa. Kulihat makku sudah tertidur dan mendengkur halus. Mbah melakukan tugasnya membasuh penisku dan memek mak ku. Selanjutnya aku tidak ingat lagi.
Aku berdiam sebentar sampai akhirnya penisku keluar dengan sendirinya dari lubang memek karena menyusut. Aku tergolek di samping emakku dan rasa lemas dan ngantuk yang luar biasa. Kulihat makku sudah tertidur dan mendengkur halus. Mbah melakukan tugasnya membasuh penisku dan memek mak ku. Selanjutnya aku tidak ingat lagi.
Aku terbangun karena desakan ingin
kencing. Di sisi dapur rumah kami memang ada semacam wc kecil khusus
untuk buang air kecil. Penisku menegang menahan desakan ingin kencing,
tetapi setelah air seni dilepas, penisku masih tetap gemuk. Dia makin
keras ketika aku mengingat kejadian yang baru aku alami.
Ketika aku masuk aku melihat mak dan
nenekku tidur tanpa penutup di bagian bawah. Makku sudah terkapar,
tetapi nenek ku masih manyapaku untuk tidur di sebelahnya. Aku turuti
dan aku langsung tidur memeluk nenekku, tanganku langsung meremas kedua
bongkahan payudara nenek yang terasa masih kenyal. Puting susunya aku
pelintir-pelintir dan kadang-kadang aku usap. Nenek merintih – rintih
aku perlakukan begitu. Dia kemudian memintaku untuk menindihnya lagi.
Aku sudah semakin paham dan kuarahkan penisku ke lubang di bagian bawah
badannya. Pelan-pelan aku tekan sehingga melesak lah seluruh penisku ke
dalam memeknya.
Awalnya aku menggenjot perlahan-lahan,
tetapi seiring dengan erangan nenek aku jadi makin bersemangat
menggenjot lebih cepat. Nenek sama seperti mbok ku, dia menjerit jerit
nikmat dan kemudian kedua kakinya merangkul pinggangku erat sekali
sampai aku tidak bisa bergerak. Kurasakan memeknya berkedut-kedut. Aku
tidak bergerak sampai nenek melonggarkan kuncian kakinya. Aku kembali
mengenjot nenek dengan gerakan lamabat dan cepat. Tidak lama kemudian
nenek kembali mengunci tubuhku dan aku kembali merasakan penisku
dijepit-jepit oleh memek mbah. Seingatku pada waktu itu mbah
berkali-kali begitu sampai akhirnya dia memintaku berjenti, karena
katanya dia sudah tidak kuat dan badannya lemas.
Aku masih penasaran karena belum
mencapai puncak, Kulihat emakku tergeletak mengangkang. Aku beralih
menindih mak. Dia terbangun hanya dengan membuka matanya. Sementara itu
penisku sudah masuk kedalam memeknya. Aku tidak perduli apakah makku
sudah bangun atau masih setengah tidur. Aku terus menggenjot sampai
kemudian mak juga merintih-rintih. Mak tak lama kemudian juga mengunci
tubuhku dengan lilitan kedua kakinya sehingga aku tidak bisa bergerak.
Padahal aku merasa sudah hampir mencapai puncak kenikmatan. Terasa memek
makku menjepit ketat sekali berkali-kali. Ketika kuncian kakinya agak
longgar aku memaksa menggenjot lagi sampai menjelang aku puncak makku
kembali melilitkan kakinya dan aku dengan paksa masih menggenjot meski
gerakkannya pendek. Tapi itu sudah bisa menghantar puncak knikmatanku.
Aku mengejang-ngejang menyemprotkan mani ke dalam memek mak dan mak
mengunci tubuhku ketat sekali dan kedua tangannya juga memelukku erat
sekali.
Aku tertidur sebentar dan terbangun
karena terasa geli di penisku. Kulirik ke bawah ternyata mbah tengah
duduk dan mempermainkan penisku. Keadaan masih gelap. Aku mungkin baru
tertidur satu jam, tetapi penisku sudah berdiri lagi. Malam itu aku
bermain berkali-kali sampai hari agak terang mungkin aku sudah melepas
spermaku 5 kali.
Paginya kami seperti biasa mandi bersama
dan saling menyabuni. Aku tidak berani bertanya banyak, karena mereka
sama sekali tidak menyinggung peristiwa tadi malam. Mak ku hanya
mengingatkanku agar menjaga rahasia rumah tangga. Hari itu aku tidak
sekolah karena apa aku lupa, apakah karena hari minggu atau hari libur
sekolah. Mak dan Mbah setelah selesai membereskan urusan rumah tangga
mereka membuat masakan sederhana, lalu kami sarapan pagi. Hari itu
seingatku mak dan mbah tidak ke sawah, tapi malah masuk kamar
tidur-tiduran.
Aku yang merasa badanku lelah juga
tertarik untuk gabung tidur dengan mereka. Kelanjutannya aku kembali
ngembat mak dan mbah sampai aku keluar 3 kali. Kami sempat tidur
sebentar sebelum bangun karena lapar di siang hari.
Mak dan mbah hanya mengenakan kemben
sarung menyiapkan makan siang, Kami makan siang di amben tempat tidurku.
Perutku terasa kenyang dan mata kembali mengantuk.
Aku memilih tidu di kasur empuk tempatnya mak dan mbah biasa tidur. Entah berapa lama aku tertidur lalu terbangun karena terasa ada yang menggelitik di kemaluanku. Ternyata mak dan mbahku memainkan penisku. Mereka berdua menimang-nimang penisku. Akhirnya sampai waktu petang aku sempat menyemprotkan dua kali spermaku.
Aku memilih tidu di kasur empuk tempatnya mak dan mbah biasa tidur. Entah berapa lama aku tertidur lalu terbangun karena terasa ada yang menggelitik di kemaluanku. Ternyata mak dan mbahku memainkan penisku. Mereka berdua menimang-nimang penisku. Akhirnya sampai waktu petang aku sempat menyemprotkan dua kali spermaku.
Malamnya aku masih sempat menyemprotkan
sperma setelah bergantian menindih mak dan mbahku. Selanjutnya hampir
tiap malam aku harus melayani nafsu kedua orang tuaku sampai aku dewasa.
Kami menyimpan rahasia itu serapat mungkin. Herannya mak dan mbahku
tidak sampai hamil oleh hubungan kami. Mereka memiliki resep rahasia
untuk melakukan KB.
Meskipun keluarga kami miskin. Tetapi
kehidupan kami sangat bahagia. Aku meneruskan sekolah sampai akhirnya
bisa meraih S-1. Sejak aku kuliah aku jarang bertemu mereka, karena kau
harus pindah ke kota. Tapi setiap bulan aku mengunjungi mereka dan
menghabiskan waktu akhir pekan dengan melampiaskan nafsu.
Sejak aku kuliah aku sempat merasakan
beberapa memek cewek yang sebaya dan lebih muda dari ku. Harus diakui
bahwa memek cewek-cewek ku masih kalah nikmat dibanding memek mak dan
nenekku.
Nenekku meski usianya kemudian sudah memasuki 50 tahun dan sudah menopause, tetapi kelegitan memeknya masih luar biasa. Mak ku memeknya juga legit banget. Mungkin karena tubuh kedua orang tuaku yang kencang dan tidak gemuk, maka berpengaruh pada jepitan memeknya. Selain itu jika kuperhatikan cairan memek mereka agak kental dan lengket, berbeda dengan cewek-cewek lainnya yang lebih cair dan licin.
Nenekku meski usianya kemudian sudah memasuki 50 tahun dan sudah menopause, tetapi kelegitan memeknya masih luar biasa. Mak ku memeknya juga legit banget. Mungkin karena tubuh kedua orang tuaku yang kencang dan tidak gemuk, maka berpengaruh pada jepitan memeknya. Selain itu jika kuperhatikan cairan memek mereka agak kental dan lengket, berbeda dengan cewek-cewek lainnya yang lebih cair dan licin.
Sejak aku kuliah aku membawa berbagai
teknik baru dalam berhubungan dengan mereka seperti mengoral dan
melakukan persetubuhan dengan berbagai posisi. Mulanya mak dan Nenek
risih ketika kujilati memeknya, tetapi lama-lama karena nikmat mereka
jadi ketagihan.


No comments:
Post a Comment